Prof. Luthfi Zuhdi: Iran Cetak 230 Ribu Insinyur per Tahun di Tengah Konflik Timur Tengah

Dalam webinar PPIDK Timtengka (14/3), Prof. Luthfi Zuhdi paparkan produktivitas insinyur Iran (200–230 ribu/tahun) dan analisis dukungan Iran kepada Hamas karena vakum bantuan dari negara Teluk, serta konflik Timur Tengah yang dipicu oleh cadangan minyak/gas dan kepentingan AS.

J
Jurnalistik
2 menit baca
prof-luthfi-zuhdi-iran-cetak-230-ribu-insinyur-tahun-tengah-konflik-timur-tengah

TimtengkaNews – Prof. Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi, Lc., M.A. memaparkan analisisnya dalam webinar bertajuk “Perang Amerika di Timur Tengah: Apa Dampaknya bagi Mahasiswa dan Masa Depan Dunia” yang diadakan oleh PPIDK Timtengka pada Sabtu (14/3) via Zoom.

Prof. Zuhdi menyampaikan bahwa jumlah insinyur dari berbagai bidang yang “diproduksi” Iran setiap tahunnya berkisar 200–230 ribu orang. Dengan jumlah penduduk sekitar 93 juta jiwa, angka tersebut relatif besar dibandingkan negara-negara dengan populasi raksasa.

Sebagai perbandingan, Tiongkok “memproduksi” sekitar 600 ribu hingga 1,3 juta insinyur per tahun untuk populasi 1,4 miliar jiwa. Sementara itu, India mencetak sekitar satu juta insinyur per tahun untuk jumlah penduduk yang juga berkisar 1,4 miliar jiwa.

Mengenai dinamika politik, Prof. Zuhdi memaparkan bahwa meski secara ideologi terdapat perbedaan antara Hamas dan Iran, Hamas tetap menerima bantuan Teheran karena ketiadaan dukungan dari negara-negara Teluk. Berdasarkan analisisnya, Iran mulai menyokong Palestina setelah koalisi Arab dan AS menyerang Irak pasca-invasi Irak ke Kuwait.

Prof. Zuhdi mencatat bahwa pada saat itu, warga di Jalur Gaza cenderung mendukung Irak, yang menyebabkan aliran bantuan untuk Palestina dari pihak lain dikurangi atau diputus. Di momen itulah, ia menilai Iran mulai masuk untuk mengisi kekosongan bantuan tersebut.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Timur Tengah selalu dihinggapi konflik karena memiliki 40% cadangan minyak dan gas dunia serta menjadi jalur perdagangan vital antarbenua. Ditambah sejarah rivalitas regional, Amerika Serikat pun berupaya menguasai kawasan ini demi menjamin kepentingan keamanannya.

Reporter: M. Saladin Ghaza

Tentang Penulis

J
Jurnalistik

Kontributor

Artikel Terkait

IDN Oman
Berita

Panitia Simposium TIMTENGKA Galang Dukungan Diaspora Indonesia di Oman

Pada 1 Maret 2026, Panitia Simposium TIMTENGKA bertemu diaspora Indonesia di Oman untuk meminta dukungan dan mempererat sinergi guna kesuksesan simposium akhir Juli 2026. Pertemuan ini dihadiri tokoh-tokoh diaspora dan berjalan hangat, dengan harapan terjalin kolaborasi kuat untuk kelancaran acara yang bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika.

Jurnalistik
College of Sharia Sciences
Berita

College of Sharia Sciences Muskat Sambut Baik Rencana Simposium TIMTENGKA

Pada 25 Februari 2026, Panitia Simposium PPI Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika bertemu pimpinan College of Sharia Sciences Muskat (Rektor Dr. Rashid Ali Al Harthi) untuk menyampaikan rencana simposium di Oman. Panitia meminta dukungan izin dan fasilitas, dan kampus menyambut baik serta memberikan masukan. Pertemuan ini bertujuan memperkuat sinergi dan kerja sama untuk kesuksesan simposium.

Jurnalistik
KBRI Muscat
Berita

KBRI Muskat Sambut Baik Rencana Simposium TIMTENGKA

Pada 23 Februari 2026, Panitia Simposium TIMTENGKA bertemu Dubes RI untuk Oman dan Fungsi Pensosbud I untuk menyampaikan rencana simposium Juli 2026. Pertemuan berjalan hangat, dengan dukungan dan masukan positif dari KBRI untuk kesuksesan acara sebagai wadah kolaborasi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika.

Jurnalistik
Nusantara Bersatu
Berita

“Nusantara Bersatu” Indonesia Back to Back Juara Umum di Festival Budaya Internasional ke-14 UIM

Stan Indonesia meraih juara umum untuk kedua kalinya berturut-turut dalam Festival Budaya Internasional ke-14 di Universitas Islam Madinah, dengan total hadiah 30.000 riyal Saudi. Selain itu, Indonesia juga memenangkan lomba puisi (700 riyal), kuliner tingkat Asia (1.000 riyal), dan busana internasional (700 riyal). Tema "Nusantara Bersatu" diusung dengan menampilkan budaya Sasak, Maluku, dan Melayu melalui pakaian adat, seni, dan kuliner khas. Stan ini juga menyuguhkan cemilan Nusantara, permainan tradisional, maskot Garuda, serta baju adat untuk fotobooth, menjadikannya salah satu yang paling ramai dikunjungi. Prestasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa Indonesia di Madinah dan bukti daya tarik budaya Indonesia di kancah internasional.

Jurnalistik