PPIDK Timtengka Desak Pemerintah RI Keluar dari Board of Peace

PPIDK Timtengka desak Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) yang dianggap alat imperialisme AS-Israel, mengecam serangan yang menewaskan Ayatollah Khamenei dan ribuan korban sipil, serta serukan penghentian genosida Palestina dan penegakan hukum internasional. Mahasiswa Indonesia diimbau waspada dan kritis terhadap narasi geopolitik.

J
Jurnalistik
4 menit baca
ppidk-timtengka-desak-ri-keluar-board-of-peace

Beirut - Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka) mengeluarkan pernyataan sikap merespons eskalasi militer yang kian membara di kawasan Timur Tengah. Organisasi diaspora pelajar Indonesia ini mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk segera mencabut keanggotaan dari Board of Peace (BoP) yang dinilai sebagai instrumen imperialisme modern.


Pernyataan ini dirilis menyusul serangan udara masif yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta jatuhnya ribuan korban sipil. PPIDK Timtengka menilai situasi ini bukan sekadar konflik regional biasa, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas global akibat pelanggaran hukum internasional yang dilakukan secara terang-terangan oleh aliansi AS-Israel.


BoP: Instrumen Penjajahan Gaya Baru


Poin krusial dalam pernyataan ini adalah tuntutan agar Indonesia keluar dari Board of Peace. PPIDK Timtengka memandang keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut justru berisiko menjadi "stempel" legitimasi bagi kepentingan sepihak kekuatan hegemonik global.


"Kami menuntut Pemerintah RI mencabut keanggotaan dari Board of Peace. Forum tersebut sarat akan agenda kapitalisme global dan hegemoni yang dibungkus dengan narasi semu perdamaian. Indonesia harus berani menjaga marwah politik luar negerinya agar tidak terjebak dalam kepentingan struktur asing yang menindas," tegas pernyataan resmi tersebut.


Desak Langkah Konkret Lawan Genosida


Selain mengutuk agresi terhadap kedaulatan Iran, para mahasiswa mendesak komunitas internasional—khususnya PBB dan OKI—untuk menghentikan standar ganda dalam menangani krisis kemanusiaan. Mereka menekankan bahwa de-eskalasi tidak akan pernah tercapai tanpa keberanian kolektif untuk menegakkan hukum humaniter internasional secara adil, termasuk dalam menghentikan genosida terhadap rakyat Palestina.


Seruan untuk Mahasiswa dan Diaspora


Di tengah ketidakpastian keamanan, PPIDK Timtengka menginstruksikan seluruh mahasiswa Indonesia di kawasan untuk tetap waspada dan memperkuat koordinasi dengan KBRI/KJRI setempat. Mereka juga mengajak para diaspora untuk kritis terhadap arus informasi dan memperkuat literasi geopolitik guna melawan narasi tunggal yang menyesatkan di ruang publik.


Sebagai penutup, PPIDK Timtengka menegaskan bahwa perdamaian yang adil dan berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap kedaulatan hukum internasional, dialog yang konstruktif, serta komitmen nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.


8 Poin Sikap PPIDK Timtengka


Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan intelektual diaspora pelajar Indonesia di kawasan Timur Tengah dan Afrika, PPIDK Timtengka menyampaikan delapan poin sikap sebagai berikut:

  1. Menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta warga sipil yang menjadi korban dalam konflik dan eskalasi serangan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran. Setiap hilangnya nyawa merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan oleh kepentingan geopolitik apa pun.
  2. Mengecam segala bentuk agresi militer Amerika Serikat–Israel terhadap Republik Islam Iran yang melanggar kedaulatan negara serta prinsip-prinsip hukum internasional. Tindakan tersebut berisiko memperluas konflik, memperdalam krisis kemanusiaan, serta mengancam perdamaian dan keamanan global.
  3. Mendesak komunitas internasional, termasuk United Nations dan Organisation of Islamic Cooperation, beserta lembaga-lembaga internasional lainnya, untuk mengambil langkah konkret dalam menghentikan genosida terhadap rakyat Palestina, menegakkan hukum humaniter internasional, serta mendorong proses de-eskalasi guna mencegah perluasan konflik antarnegara di kawasan Timur Tengah.
  4. Mendorong Pemerintah Republik Indonesia untuk meninjau secara serius posisi dan keterlibatan dalam forum-forum internasional yang dinilai tidak efektif dalam memperjuangkan perdamaian yang adil. Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah yang lebih aktif, konsisten, dan tegas dalam diplomasi global berbasis keadilan dan kemanusiaan, sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif serta amanat Pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  5. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk mencabut keanggotaan dari Board of Peace (BoP) yang dinilai berpotensi menjadi instrumen kepentingan sepihak serta memuat agenda kapitalisme dan hegemoni global di kawasan. Keanggotaan Indonesia di BoP dikhawatirkan hanya akan menjadi legitimasi simbolik bagi kepentingan struktur kekuasaan asing. Dalam pandangan PPIDK Timtengka, BoP merupakan bentuk imperialisme modern yang dibalut dalam narasi semu perdamaian.
  6. Mengimbau mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika untuk tetap mengutamakan keselamatan, mengikuti arahan resmi perwakilan Republik Indonesia melalui KBRI dan KJRI serta organisasi pelajar Indonesia di masing-masing negara, menjaga persatuan, dan menghindari ujaran kebencian maupun polarisasi yang berpotensi memperkeruh situasi.
  7. Menegaskan bahwa di tengah situasi keamanan global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, perdamaian sejati hanya dapat terwujud melalui penghormatan terhadap hukum internasional, dialog yang konstruktif, keberanian kolektif untuk menghentikan kekerasan, serta komitmen nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
  8. Mengajak mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika secara khusus, serta masyarakat Indonesia secara umum, untuk memperkuat tradisi intelektual yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, memperluas literasi geopolitik dan wawasan kebangsaan, membangun narasi koeksistensi dan perdamaian, serta mengedepankan sikap kritis dalam menyikapi informasi di ruang publik dan media sosial.

Tentang Penulis

J
Jurnalistik

Kontributor

Artikel Terkait

IDN Oman
Berita

Panitia Simposium TIMTENGKA Galang Dukungan Diaspora Indonesia di Oman

Pada 1 Maret 2026, Panitia Simposium TIMTENGKA bertemu diaspora Indonesia di Oman untuk meminta dukungan dan mempererat sinergi guna kesuksesan simposium akhir Juli 2026. Pertemuan ini dihadiri tokoh-tokoh diaspora dan berjalan hangat, dengan harapan terjalin kolaborasi kuat untuk kelancaran acara yang bermanfaat bagi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika.

Jurnalistik
College of Sharia Sciences
Berita

College of Sharia Sciences Muskat Sambut Baik Rencana Simposium TIMTENGKA

Pada 25 Februari 2026, Panitia Simposium PPI Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika bertemu pimpinan College of Sharia Sciences Muskat (Rektor Dr. Rashid Ali Al Harthi) untuk menyampaikan rencana simposium di Oman. Panitia meminta dukungan izin dan fasilitas, dan kampus menyambut baik serta memberikan masukan. Pertemuan ini bertujuan memperkuat sinergi dan kerja sama untuk kesuksesan simposium.

Jurnalistik
KBRI Muscat
Berita

KBRI Muskat Sambut Baik Rencana Simposium TIMTENGKA

Pada 23 Februari 2026, Panitia Simposium TIMTENGKA bertemu Dubes RI untuk Oman dan Fungsi Pensosbud I untuk menyampaikan rencana simposium Juli 2026. Pertemuan berjalan hangat, dengan dukungan dan masukan positif dari KBRI untuk kesuksesan acara sebagai wadah kolaborasi mahasiswa Indonesia di Timur Tengah dan Afrika.

Jurnalistik
Nusantara Bersatu
Berita

“Nusantara Bersatu” Indonesia Back to Back Juara Umum di Festival Budaya Internasional ke-14 UIM

Stan Indonesia meraih juara umum untuk kedua kalinya berturut-turut dalam Festival Budaya Internasional ke-14 di Universitas Islam Madinah, dengan total hadiah 30.000 riyal Saudi. Selain itu, Indonesia juga memenangkan lomba puisi (700 riyal), kuliner tingkat Asia (1.000 riyal), dan busana internasional (700 riyal). Tema "Nusantara Bersatu" diusung dengan menampilkan budaya Sasak, Maluku, dan Melayu melalui pakaian adat, seni, dan kuliner khas. Stan ini juga menyuguhkan cemilan Nusantara, permainan tradisional, maskot Garuda, serta baju adat untuk fotobooth, menjadikannya salah satu yang paling ramai dikunjungi. Prestasi ini menjadi kebanggaan mahasiswa Indonesia di Madinah dan bukti daya tarik budaya Indonesia di kancah internasional.

Jurnalistik