PPIDK Timtengka Audiensi dengan Wamenlu Anis Matta: Bahas Strategi Diplomasi dan Perlindungan 30 Ribu Pelajar
PPIDK Timtengana gelar audiensi dengan Wamenlu RI Anis Matta pada 20 Februari 2026 untuk memperkuat sinergi diplomasi dan perlindungan bagi 30.000 pelajar Indonesia di 19 negara Timur Tengah dan Afrika, dengan fokus pada pengembangan *religious capital diplomacy*, program Sekolah Diplomasi, serta usulan RUU Perhimpunan Pelajar guna menjamin hak akademik dan keamanan—terutama setelah pengalaman evakuasi mahasiswa dari Sudan tahun 2023; Anis Matta menyambut baik inisiatif ini dan berkomitmen mendukung agenda Simposium di Oman Juli mendatang

TimtengkaNews– Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka) menggelar audiensi strategis bersama Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, pada Jumat (20/2). Pertemuan ini menjadi forum krusial untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dengan diaspora pelajar di kawasan tersebut, khususnya dalam penguatan peran diplomasi dan perlindungan warga negara.
Audiensi tersebut dihadiri oleh perwakilan pelajar Indonesia dari berbagai negara, termasuk Mesir, Yaman, Arab Saudi, dan Yordania. Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti tantangan geopolitik, potensi intelektual diaspora, serta hambatan nyata yang dihadapi mahasiswa di lapangan.
Kawasan sebagai Ruang Intelektual
Koordinator PPIDK Timtengka, Ahmad Luthfy Nasri, memaparkan bahwa organisasi ini merepresentasikan hampir 30.000 pelajar Indonesia yang tersebar di 19 negara. Ia menegaskan bahwa Timur Tengah dan Afrika bukan sekadar entitas geografis, melainkan ruang pembentukan karakter yang mempertemukan tradisi Islam klasik dengan dinamika global.
“Kawasan Timur Tengah dan Afrika bukan sekadar ruang geografis, tetapi juga ruang perjumpaan intelektual yang mempertemukan tradisi keilmuan Islam klasik, dinamika geopolitik dunia, serta realitas sosial berbagai negara. Pengalaman ini membentuk pelajar Indonesia secara intelektual dan moral, sekaligus memperkuat kepekaan mereka dalam membaca berbagai tantangan global,” ujar Nasri.
Nasri menambahkan, kekuatan intelektual ini berpotensi melahirkan religious capital diplomacy, yakni pemanfaatan tradisi keilmuan Islam sebagai instrumen kontribusi diplomatik Indonesia di kancah internasional.
Program Strategis
Dalam kesempatan tersebut, PPIDK Timtengka juga menyampaikan sejumlah agenda strategis seperti Sekolah Diplomasi dan Alumni Connect. Salah satu agenda utama yang disoroti adalah Simposium Kawasan Timur Tengah–Afrika yang direncanakan berlangsung pada 22–25 Juli di Muscat, Oman.
“Kami berinisiatif mengadakan program sekolah diplomasi dan kajian geopolitik guna memperkuat kapasitas teman-teman, sekaligus menumbuhkan kesadaran serta kemampuan dalam merespons dinamika global yang kerap terjadi di kawasan ini,” tutur Nasri.
Urgensi Perlindungan di Kawasan Konflik
Selain isu akademik, PPIDK Timtengka memberikan perhatian serius pada aspek keamanan, merujuk pada pengalaman evakuasi mahasiswa dari Sudan akibat konflik bersenjata tahun 2023. Atas dasar tersebut, mereka mengusulkan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perhimpunan Pelajar.
Regulasi ini diharapkan menjadi payung hukum yang menjamin perlindungan akademik, pengakuan kredit perkuliahan, hingga bantuan pemulangan jenazah mahasiswa yang selama ini sering kali hanya mengandalkan solidaritas swadaya organisasi pelajar.
Diplomasi Sosial dan Respon Wamenlu
Gerakan pelajar di kawasan ini juga meluas ke ranah kemanusiaan melalui MEA Social Project (Middle East and Africa Social Project). Program ini mencakup bantuan bagi pengungsi Palestina dan Suriah di Yordania, serta diplomasi sosial melalui kegiatan qurban.
Menanggapi berbagai pemaparan tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menyatakan apresiasinya terhadap konsolidasi pelajar di kawasan tersebut. Ia menilai ribuan diaspora pelajar merupakan sumber intelektualisme besar bagi masa depan Indonesia.
“Ini merupakan program bagus dan bisa kita kolaborasikan ke depan. Kita perlu memikirkan bersama bagaimana ribuan diaspora pelajar ini suatu saat dapat menjadi sumber intelektualisme besar bagi Indonesia,” ujar Anis Matta.
Anis Matta juga menekankan pentingnya pengayaan pemahaman politik dan geopolitik bagi generasi muda. Menutup pertemuan tersebut, Wamenlu menyatakan dukungannya terhadap agenda Simposium di Oman dan bersedia hadir jika agenda memungkinkan, seraya membuka ruang komunikasi berkelanjutan antara Kemenlu dan diaspora pelajar.
Tentang Penulis
Kontributor



