Audiensi dengan BNPT, Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah-Afrika Bahas Tantangan Ideologi Global
PPIDK Timtengka gelar audiensi dengan Kepala BNPT Eddy Hartono pada 2 Februari 2026 untuk memperkuat dialog strategis antara diaspora pelajar Indonesia di Timur Tengah dan Afrika dengan institusi negara, membahas tantangan ideologis lintas batas, stereotipe terhadap pelajar di kawasan, serta potensi Timur Tengah sebagai pusat tradisi intelektual; kedua pihak sepakat memperkuat literasi kritis dan ketahanan ideologis mahasiswa sebagai fondasi ketahanan bangsa.

TimtengkaNews – Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka) melakukan audiensi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, Komjen Pol. Eddy Hartono, pada Senin (2/2/2026). Pertemuan ini bertujuan memperkuat dialog strategis antara diaspora pelajar Indonesia di kawasan Timur Tengah dan Afrika dengan institusi negara.
Audiensi tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai dinamika keamanan global, tantangan ideologis lintas batas, serta kontribusi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam memperkuat ketahanan intelektual dan sosial bangsa.
Bahas Tantangan Ideologi Lintas Batas
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perkembangan dinamika ideologi global yang dapat memengaruhi generasi muda, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri. Perubahan lanskap geopolitik dan arus informasi global dinilai menghadirkan tantangan baru bagi pembentukan perspektif kebangsaan.
Karena itu, dialog antara lembaga negara dan komunitas mahasiswa diaspora dipandang penting untuk memperkuat pemahaman bersama serta membangun pendekatan yang lebih edukatif dalam menghadapi berbagai tantangan ideologis di ruang global.
Soroti Stereotipe terhadap Pelajar di Timur Tengah
Koordinator PPIDK Timtengka, Ahmad Luthfy Nasri, menyampaikan bahwa pelajar Indonesia yang menempuh studi di Timur Tengah kerap menghadapi stereotipe tertentu. Salah satu yang sering muncul adalah pertanyaan mengenai alasan memilih belajar di kawasan yang kerap dipersepsikan sebagai wilayah rawan konflik.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut biasanya berkaitan dengan isu keamanan maupun potensi paparan ideologi yang dianggap tidak selaras dengan nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif agar kawasan Timur Tengah tidak selalu dipandang melalui persepsi yang sempit.
Timur Tengah sebagai Pusat Tradisi Intelektual
PPIDK Timtengka menilai bahwa Timur Tengah secara historis merupakan salah satu pusat penting peradaban Islam dan tradisi intelektual dunia. Kawasan ini menjadi tempat berkembangnya berbagai disiplin ilmu keislaman, filsafat, hingga kajian sosial-politik selama berabad-abad.
Bagi mahasiswa Indonesia, belajar di Timur Tengah tidak semata pilihan geografis, tetapi juga bagian dari proses intelektual untuk memahami langsung sumber-sumber tradisi keilmuan Islam sekaligus dinamika sosial-politik yang membentuk realitas dunia kontemporer.
Dorong Penguatan Literasi dan Ketahanan Ideologis
Audiensi ini juga menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat literasi kritis, moderasi, serta ketahanan ideologis pelajar Indonesia di luar negeri. Kedua pihak menilai bahwa penguatan kapasitas intelektual mahasiswa merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan bangsa di tengah perubahan global.
Dengan demikian, keberadaan pelajar Indonesia di kawasan Timur Tengah dan Afrika diharapkan tidak dipandang melalui stereotipe yang sempit, melainkan sebagai potensi strategis dalam membangun pengetahuan, dialog peradaban, serta kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan negara.
Tentang Penulis
Kontributor



